Saturday, January 17, 2015

Penggunaan Diri Secara Efektif Dalam Komunikasi Terapeutik



MAKALAH KOMUNIKASI DASAR KEPERAWATAN
Tentang :
Penggunaan Diri Secara Efektif Dalam Komunikasi Terapeutik





Di susun Oleh:
1.    Ai Putriani
2.    Delia S.H
3.    M Ridwan F
4.    Rahmat N
5.    Oky Renaldy S




SMK Kes Bhakti Kencana Garut
Tahun Ajaran 2014/2015



KATA PENGANTAR
puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah yang telah melimpahkan taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun Makalah ini dengan judul “Penggunaan Diri secara Efektif Dalam Komunikasi Teraupeutik”. Sholawat beserta salam semoga tercurah limpahkan kepada junjunan alam yakni Nabi Muhammad SAW yang telah membawa ajaran yang benar semoga kita mendapat syafaat di yaumal akhir nanti.
     Kami berusaha semaksimal mungkin agar penyajian Makalah yang ditugaskan oleh Ibu Elisa Istiqomah. ini dapat bermanfaat mengenai pengetahuan tentang Penggunaan Diri secara Efektif Dalam Komunikasi Teraupeutik baik bagi penyusun sendiri maupun bagi para pembaca. Didalam Makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat perbaikan dari Guru dan teman-teman sekalian akan kmi terima dengan senang hati .



DAFTAR ISI

Kata pengantar............................................................................................... i
Daftar Isi......................................................................................................... ii

Bab 1 Pendahuluan
A.    Tujuan Penulisan....................................................................................... 1
B.     Landasan Teori.......................................................................................... 1

Bab 2 Isi
A.    Pengertian komunikasi teraupetik.............................................................. 2
B.   Penggunaan Diri Secara Efektif Dalam Komunikasi Terapeutik……………2
a.     Menghadirkan diri................................................................................ 2
b.     Dimensi respon.................................................................................... 3
c.      Dimensi tindakan................................................................................. 3
d.     Mendengarkan secara aktif.................................................................. 6
Bab 3 penutup
A.    Kesimpulan................................................................................................ 7



BAB 1
PENDAHULUAN

Tujuan penulisan
          Tujuan kami menulis makalah ini adalah
A.   Memenuhi tugas
B.   Memberikan informasi kepada pembaca tentang komunikasi teraupetik
C.   Memberikan informasi kepada pembaca tentang bagaimana cara penggunan diri secara efektif daka komunikasi teraupetik
D.   Memberikan motivasi kepada pembaca
Landasan Teori
          Penulisan makalah ini menggunakan
A.   informasi dari internet



BAB 2
ISI


A.   Pengertian Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik merupakan media dalam mengembangkan hubungan perawat-klien dan kualitas komunikasi mempengaruhi kualitas hubungan serta efektifitas dari asuhan keperawat
Keadaan stress dan cemas yang dialami klien sering tidak berhubungan dengan fasilitas di rumah sakit, melainkan biasanya karena tidak diberitahu penyakitnya, pertanyaan yang disepelekan, tidak mengetahui alasan dan hasil prosedur yang dilakukan atau pengobatan. Situasi tersebut dapat diatasi dengan meningkatkan komunikasi perawat-klien. Perawat perlu menyadari diri sendiri termasuk sikap dan caranya berkomunikasi sebelum menggunakan dirinya secara terapeutik untuk membantu kerjasama dengan klien dalam memecahkan dan mengatasi masalah kesehatan klien.

B.   Penggunaan Diri Secara Efektif Dalam Komunikasi Terapeutik
Perawat perlu menyadari bahwa semua tindakan keperawatan dilaksanakan dalam bentuk komunikasi (nonverbal/verbal). Oleh karena itu, perawat mengetahui fungsi komunikasi dan sikap serta keterampilan yang perlu dikembangkan dalam komuikasi dengan klien. Hal-hal yang harus kita lakukan saan berhadapan dengan pasien adalah :

1.      Menghadirkan diri
Perawat tidak cukup mengetahui teknik komunikasi dan isi komunikasi, tetapi yang sangat penting adalah sikap dan penampilan komunikasi.
Kehadiran fisik, menurut Evans mengidentifikasi 4 sikap dan cara untuk menghadirkan diri secara fisik, yaitu :
-        Berhadapan : arti dari posisi ini yaitu "saya siap utnuk anda"
-        Mempertahankan kontak mata : berarti mengahargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
-        Membungkuk ke arah klien : posisi ini menunjukkan keinginan atau mendengar sesuatu
-        Tetap rileks : dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam merespon klien

2.      Dimensi respon
Dimensi respon terdiri dari respon perawat yang ikhlas, menghargai, simpati dan konkrit. Dimensi respon sangat penting pada awal hubungan klien untuk membina hubungan saling percaya dan komunikasi terbuka. Respon ini terus dipertahankan sampai pada akhir hubungan.

-        Keikhlasan
Perawat menyatakan keikhlasan melalui keterbukaan, kejujuran, ketulusan dan berperan aktif dalam hubungan dengan klien
-        Menghargai
Rasa menghargai dapat diwujudkan dengan duduk diam bersama klien yang menangis, minta  atas hal yang tidak disukai klien.
-        Empati
Perawat memandang dalam pandangan klien, merasakan melalui perasaan klien dan kemudian mengidentifikasi masalah klien serta membantu klien mengatasi masalah tersebut
-        Konkrit
perawat menggunakan terminologi yang spesifik, bukan abstrak. Fungsinya yaitu, mempertahankan respon perawat terhadap perasaan klien, memberikan penjelasan yang akurat dan mendorong klien memikirkan masalah yang spesifik.

3.       Dimensi Tindakan
Dimensi tindakan terdiri dari konfrontasi, kesegeraan, keterbukaan, emosional katarsis, dan bermain peran (Stuart da Sundeen, 1987 : 131)


a.        Konfrontasi
Konfrontasi adalah perasaan perawat tentang perilaku klien yang tidak sesuai. Konfrontasi berguna untuk meningkatkan kesadaran klien akan kesesuaian perasaan, sikap, kepercayaan, dan perilaku. Konfrontasi sangat diperlukan klien yang telah mempunyai kesadaran tetapi belum merubah perilakunya. Konfrontasi juga merupakan proses interpersonal yang digunakan oleh perawat untuk memfasilitasi, memodifikasi dan peluasan dari gambaran diri orang lain.
Tujuan dari konfrontasi : agar orang lain sadar adanya ketidaksesuaian pada dirinya
Dua bagian konfrontasi
-        Membuat orang lain sadar terhadap perilaku yang tidak produktif/merusak
-        Membuat pertimbangan tentang bagaimana dia bertingkah laku yang lebih produktif dengan jelas dan konstruktif
Waktu yang tepat dilakukkannya konfrontasi
-        Tingkah lakunya tidak produktif
-        Tingkah lakunya merusak
-        Ketika mereka melanggar hak kita atau hak orang lain
Cara melakukan konfrontasi
-        Clarify : membuat sesuatu lebih jelas untuk dimengerti
-        Articulate : dapat mengekspresikan opini diri sendiri dengan kata – kata yang jelas
-        Request : permintaan
-        Encourage : memberikan support, harapan dan kepercayaan
Tiga kategori konfrontasi yaitu:
-        Ketidak sesuaian antara konsep diri klien (ekspresi klien tentang dirinya) dan ideal diri (cita-cita/keinginan klien)
-        Ketidak sesuaian antara ekspresi non verbal dan perilaku klien
-        Ketidak sesuaian antara pengalaman klien dan perawat

b.      Kesegeraan
Perawat sensitif terhadap perasaan klien dan berkeinginan membantu dengan segera. Kesegeraan terjadi jika interaksi perawat klien difokuskan dan digunakan untuk mempelajari fungsi klien dalam hubungan interpersonal lainnya. Perawat harus sensitive terhadap perasaan klien dan berkeinginan untuk membantu dengan segera

c.       Keterbukaan perawat
Membuka diri adalah membuat orang lain tahu tentang pikiran, perasaan, pengalaman pribadi kita. Membuka diri diperlukan saat perawat ingin meningkatkan pemahaman, kekuatan dan kepercayaan klien. Perawat membuka diri tentang pengalaman yang sama dengan pengalaman klien. Tukar pengalaman inim memberi keuntungan pada klien untuk mendukung kerjasama dan memberikan sokongan.
Cara membuka diri :
-        Mendengar
-        Empati
-        Membuka diri
-        Mengecek

d.      "Emosional Catharsis"
Emosional katarsis tejadi jika klien diminta untuk bicara tentang hal yang menganggu dirinya. Perawat harus megkaji kesiapan klien untuk mendiskusikan masalahnya. Jika klien mengalami kesukaran dalam mengekspresika perasaannya, perawat dapat membantu dengan mengekspresikan perasaannya jika berada pada situasi klien. Jika klien menyadari bahwa ia mengekspresikan perasaan dalam suasan menerima dan aman maka klien akan memperluas kesadaran dan penerimaan pada dirinya. Klien didorong untuk membicarakan hal – hal yang sangat mengganggunya untuk mendapatkan efek terapeutik. Disini perlu pengkajian dan kesiapan klien untuk mendikusikan masalahnya. Jika klien sulit mengungkapkan perasaannya perawat perlu membantu mengekspresikan perasaannya jika ia berada pada situasi klein

e.       Bermain Peran
Bermain peran adalah melakukan peran pada situasi tertentu ini berguna untuk meningkatkan kesadaran dalam berhubungan dan kemampuan melihat situasi dari pandangan orang lain. Bermain peran menjembatani antara pikirandan perilaku serta klien merasa bebas mempraktekan perilaku baru pada lingkungan yang nyaman. Tindakan untuk membangkitkan situasi tertentu untuk meningkatkan penghayatan klien kedalam hubungan manusia dan memperdalam kemampuannya untuk melihat situasi dari sudut pandang lain dan juga memperkenalkan klien untuk mencobakan situasi baru dalam lingkungan yang aman.

4.      Mendengarkan Secara aktif ( Active Listening )
Menjadi pendengar yang baik merupakan keterampilan dasar dalam melakukan hubungan perawat-klien. Ellis Gates, and Konworthy menjelaskan bahwa mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian akanmenunjukkan pada orang tersebut bahwa apa yang dikatakannya merupakanhal yang penting dan dia adalah orang yang berarti. Mendengarkan jugamenunjukkan pesan “Anda bernilai untuk saya” dan “Saya tertarik untuk mendengarkan anda”Selama mendengarkan secara aktif, perawat mengikuti apa yang dibicarakan klien dan memperhatikannya. 
     Mendengarkan secara aktif ini terdiri dari empat tahap,membuka diri, mendefinisikan masalah, menentukan tujuan,dan mengevaluasi tujuan. Ada saat perawat berada dalam kondisi pseudolistening. Kondisi pseudolistening tersebut antara lain:
a.       Diam untuk mempersiapkan apa yang akan dikatakan pada pembicara selanjutnya.
b.      Mendengarkan orang lain agar didengarkan
c.       Mendengarkan hanya informasi tertentu saja
d.      Memperlihatkan seolah-olah tertarik padahal tidak
e.       Mendengarkan hanya agar klien tidak merasa kecewa
f.       Mendengarkan agar tidak ditolak
g.      Mendengarkan untuk mencari kelemahan lawan bicara supaya bisamempunyai respons yang kuat
.
   




BAB 3
PENUTUP



Kesimpulan    :
   1.      Kesadaran diri perawat merupaka dasar utama dalam membina hubungan terapeutik   dengan klien.
  2.      Sikap fisik dan psikologis yang diuraikan melalui nonverbal, dimensi respon dan dimensi tindakan perlu dipelajari dan dipakai dalam prkatek keperawatan. Kepuasan klien akan asuhan keperawatan banyak dpengaruhi oleh sikap perawat dalam berkomunikasi.
  3.      Integrasi sikap yang terapeutik dalam berkomunikasi dalam setiap tindakan keperawatan merupakan keharusan untuk asuhan yang berkualitas.




0 comments:

Post a Comment