Tentang :
Penggunaan
Diri Secara Efektif Dalam Komunikasi Terapeutik
Di susun
Oleh:
1. Ai Putriani
2. Delia S.H
3. M Ridwan F
4. Rahmat N
5. Oky Renaldy S
SMK Kes Bhakti Kencana Garut
Tahun Ajaran 2014/2015
KATA
PENGANTAR
puji dan syukur kami
ucapkan kehadirat Allah yang telah melimpahkan taufik dan hidayah-Nya sehingga
kami dapat menyusun Makalah ini dengan judul “Penggunaan Diri secara Efektif
Dalam Komunikasi Teraupeutik”. Sholawat beserta salam semoga tercurah limpahkan
kepada junjunan alam yakni Nabi Muhammad SAW yang telah membawa ajaran yang
benar semoga kita mendapat syafaat di yaumal akhir nanti.
Kami
berusaha semaksimal mungkin agar penyajian Makalah yang ditugaskan oleh Ibu
Elisa Istiqomah. ini dapat bermanfaat mengenai pengetahuan tentang
Penggunaan
Diri secara Efektif Dalam Komunikasi Teraupeutik baik bagi penyusun sendiri
maupun bagi para pembaca. Didalam Makalah ini
masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang
bersifat
perbaikan dari Guru dan teman-teman sekalian akan kmi terima dengan senang hati
.
DAFTAR ISI
Kata pengantar............................................................................................... i
Daftar Isi......................................................................................................... ii
Bab 1 Pendahuluan
A. Tujuan
Penulisan....................................................................................... 1
B. Landasan
Teori.......................................................................................... 1
Bab 2 Isi
A. Pengertian
komunikasi teraupetik.............................................................. 2
B. Penggunaan
Diri Secara Efektif Dalam Komunikasi Terapeutik……………2
a. Menghadirkan
diri................................................................................ 2
b. Dimensi
respon.................................................................................... 3
c. Dimensi
tindakan................................................................................. 3
d. Mendengarkan
secara aktif.................................................................. 6
Bab 3 penutup
A. Kesimpulan................................................................................................ 7
BAB
1
PENDAHULUAN
Tujuan
penulisan
Tujuan kami menulis makalah ini adalah
A. Memenuhi
tugas
B. Memberikan
informasi kepada pembaca tentang komunikasi teraupetik
C. Memberikan
informasi kepada pembaca tentang bagaimana cara penggunan diri secara efektif
daka komunikasi teraupetik
D. Memberikan
motivasi kepada pembaca
Landasan
Teori
Penulisan
makalah ini menggunakan
A. informasi
dari internet
BAB
2
ISI
A. Pengertian Komunikasi Terapeutik
Komunikasi
terapeutik merupakan media dalam mengembangkan hubungan perawat-klien dan
kualitas komunikasi mempengaruhi kualitas hubungan serta efektifitas dari
asuhan keperawat
Keadaan
stress dan cemas yang dialami klien sering tidak berhubungan dengan fasilitas
di rumah sakit, melainkan biasanya karena tidak diberitahu penyakitnya,
pertanyaan yang disepelekan, tidak mengetahui alasan dan hasil prosedur yang
dilakukan atau pengobatan. Situasi tersebut dapat diatasi dengan meningkatkan
komunikasi perawat-klien. Perawat perlu menyadari diri sendiri termasuk sikap
dan caranya berkomunikasi sebelum menggunakan dirinya secara terapeutik untuk
membantu kerjasama dengan klien dalam memecahkan dan mengatasi masalah
kesehatan klien.
B. Penggunaan Diri Secara Efektif
Dalam Komunikasi Terapeutik
Perawat
perlu menyadari bahwa semua tindakan keperawatan dilaksanakan dalam bentuk
komunikasi (nonverbal/verbal). Oleh karena itu, perawat mengetahui fungsi
komunikasi dan sikap serta keterampilan yang perlu dikembangkan dalam komuikasi
dengan klien. Hal-hal yang harus kita lakukan saan berhadapan dengan pasien
adalah :
1.
Menghadirkan
diri
Perawat
tidak cukup mengetahui teknik komunikasi dan isi komunikasi, tetapi yang sangat
penting adalah sikap dan penampilan komunikasi.
Kehadiran
fisik, menurut Evans mengidentifikasi 4 sikap dan cara untuk menghadirkan diri
secara fisik, yaitu :
-
Berhadapan : arti dari posisi ini yaitu
"saya siap utnuk anda"
-
Mempertahankan kontak mata : berarti
mengahargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
-
Membungkuk ke arah klien : posisi ini menunjukkan
keinginan atau mendengar sesuatu
-
Tetap rileks : dapat mengontrol
keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam merespon klien
2.
Dimensi
respon
Dimensi
respon terdiri dari respon perawat yang ikhlas, menghargai, simpati dan
konkrit. Dimensi respon sangat penting pada awal hubungan klien untuk membina
hubungan saling percaya dan komunikasi terbuka. Respon ini terus dipertahankan
sampai pada akhir hubungan.
-
Keikhlasan
Perawat
menyatakan keikhlasan melalui keterbukaan, kejujuran, ketulusan dan berperan
aktif dalam hubungan dengan klien
-
Menghargai
Rasa
menghargai dapat diwujudkan dengan duduk diam bersama klien yang menangis,
minta atas hal yang tidak disukai klien.
-
Empati
Perawat
memandang dalam pandangan klien, merasakan melalui perasaan klien dan kemudian
mengidentifikasi masalah klien serta membantu klien mengatasi masalah tersebut
-
Konkrit
perawat
menggunakan terminologi yang spesifik, bukan abstrak. Fungsinya yaitu,
mempertahankan respon perawat terhadap perasaan klien, memberikan penjelasan
yang akurat dan mendorong klien memikirkan masalah yang spesifik.
3.
Dimensi Tindakan
Dimensi
tindakan terdiri dari konfrontasi, kesegeraan, keterbukaan, emosional katarsis,
dan bermain peran (Stuart da Sundeen, 1987 : 131)
a.
Konfrontasi
Konfrontasi
adalah perasaan perawat tentang perilaku klien yang tidak sesuai. Konfrontasi
berguna untuk meningkatkan kesadaran klien akan kesesuaian perasaan, sikap,
kepercayaan, dan perilaku. Konfrontasi sangat diperlukan klien yang telah
mempunyai kesadaran tetapi belum merubah perilakunya. Konfrontasi juga
merupakan proses interpersonal yang digunakan oleh perawat untuk memfasilitasi,
memodifikasi dan peluasan dari gambaran diri orang lain.
Tujuan
dari konfrontasi : agar orang lain sadar adanya ketidaksesuaian pada dirinya
Dua bagian konfrontasi
-
Membuat orang lain sadar terhadap
perilaku yang tidak produktif/merusak
-
Membuat pertimbangan tentang bagaimana
dia bertingkah laku yang lebih produktif dengan jelas dan konstruktif
Waktu yang tepat dilakukkannya
konfrontasi
-
Tingkah lakunya tidak produktif
-
Tingkah lakunya merusak
-
Ketika mereka melanggar hak kita atau
hak orang lain
Cara melakukan konfrontasi
-
Clarify : membuat sesuatu lebih jelas
untuk dimengerti
-
Articulate : dapat mengekspresikan opini
diri sendiri dengan kata – kata yang jelas
-
Request : permintaan
-
Encourage : memberikan support, harapan
dan kepercayaan
Tiga kategori konfrontasi yaitu:
-
Ketidak sesuaian antara konsep diri
klien (ekspresi klien tentang dirinya) dan ideal diri (cita-cita/keinginan
klien)
-
Ketidak sesuaian antara ekspresi non
verbal dan perilaku klien
-
Ketidak sesuaian antara pengalaman klien
dan perawat
b.
Kesegeraan
Perawat
sensitif terhadap perasaan klien dan berkeinginan membantu dengan segera.
Kesegeraan terjadi jika interaksi perawat klien difokuskan dan digunakan untuk
mempelajari fungsi klien dalam hubungan interpersonal lainnya. Perawat harus
sensitive terhadap perasaan klien dan berkeinginan untuk membantu dengan segera
c.
Keterbukaan perawat
Membuka
diri adalah membuat orang lain tahu tentang pikiran, perasaan, pengalaman
pribadi kita. Membuka diri diperlukan saat perawat ingin meningkatkan
pemahaman, kekuatan dan kepercayaan klien. Perawat membuka diri tentang
pengalaman yang sama dengan pengalaman klien. Tukar pengalaman inim memberi keuntungan
pada klien untuk mendukung kerjasama dan memberikan sokongan.
Cara
membuka diri :
-
Mendengar
-
Empati
-
Membuka diri
-
Mengecek
d.
"Emosional Catharsis"
Emosional
katarsis tejadi jika klien diminta untuk bicara tentang hal yang menganggu
dirinya. Perawat harus megkaji kesiapan klien untuk mendiskusikan masalahnya.
Jika klien mengalami kesukaran dalam mengekspresika perasaannya, perawat dapat
membantu dengan mengekspresikan perasaannya jika berada pada situasi klien.
Jika klien menyadari bahwa ia mengekspresikan perasaan dalam suasan menerima
dan aman maka klien akan memperluas kesadaran dan penerimaan pada dirinya.
Klien didorong untuk membicarakan hal – hal yang sangat mengganggunya untuk
mendapatkan efek terapeutik. Disini perlu pengkajian dan kesiapan klien untuk
mendikusikan masalahnya. Jika klien sulit mengungkapkan perasaannya perawat
perlu membantu mengekspresikan perasaannya jika ia berada pada situasi klein
e.
Bermain Peran
Bermain
peran adalah melakukan peran pada situasi tertentu ini berguna untuk meningkatkan
kesadaran dalam berhubungan dan kemampuan melihat situasi dari pandangan orang
lain. Bermain peran menjembatani antara pikirandan perilaku serta klien merasa
bebas mempraktekan perilaku baru pada lingkungan yang nyaman. Tindakan untuk
membangkitkan situasi tertentu untuk meningkatkan penghayatan klien kedalam
hubungan manusia dan memperdalam kemampuannya untuk melihat situasi dari sudut
pandang lain dan juga memperkenalkan klien untuk mencobakan situasi baru dalam
lingkungan yang aman.
4.
Mendengarkan
Secara aktif ( Active Listening )
Menjadi
pendengar yang baik merupakan keterampilan dasar dalam melakukan hubungan
perawat-klien. Ellis Gates, and Konworthy menjelaskan bahwa mendengarkan orang
lain dengan penuh perhatian akanmenunjukkan pada orang tersebut bahwa apa yang
dikatakannya merupakanhal yang penting dan dia adalah orang yang berarti.
Mendengarkan jugamenunjukkan pesan “Anda bernilai untuk saya” dan “Saya
tertarik untuk mendengarkan anda”Selama mendengarkan secara aktif, perawat
mengikuti apa yang dibicarakan klien dan memperhatikannya.
Mendengarkan secara aktif ini terdiri dari
empat tahap,membuka diri, mendefinisikan masalah, menentukan tujuan,dan
mengevaluasi tujuan. Ada saat perawat berada dalam kondisi pseudolistening.
Kondisi pseudolistening tersebut antara lain:
a. Diam
untuk mempersiapkan apa yang akan dikatakan pada pembicara selanjutnya.
b. Mendengarkan
orang lain agar didengarkan
c. Mendengarkan
hanya informasi tertentu saja
d. Memperlihatkan
seolah-olah tertarik padahal tidak
e. Mendengarkan
hanya agar klien tidak merasa kecewa
f. Mendengarkan
agar tidak ditolak
g. Mendengarkan
untuk mencari kelemahan lawan bicara supaya bisamempunyai respons yang kuat
.
BAB
3
PENUTUP
Kesimpulan :
1.
Kesadaran diri perawat merupaka dasar utama dalam membina hubungan
terapeutik dengan klien.
2.
Sikap fisik dan psikologis yang diuraikan melalui nonverbal, dimensi
respon dan dimensi tindakan perlu dipelajari dan dipakai dalam prkatek
keperawatan. Kepuasan klien akan asuhan keperawatan banyak dpengaruhi oleh
sikap perawat dalam berkomunikasi.
3.
Integrasi sikap yang terapeutik dalam berkomunikasi dalam setiap
tindakan keperawatan merupakan keharusan untuk asuhan yang berkualitas.



0 comments:
Post a Comment